Berpacaran adalah konsep masyarakat modern, artinya
baru beberapa puluh tahun inilah kita mengenal konsep tersebut. Di masa lampau
hal ini tidak di kenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga
atau orang tua kedua belah pihak. Mengapa demikian?
Karena memang perkawinan bukan cuma masalah pribadi
kedua orang yang terlibat saja, melainkan mempunyai dampak yang luas kepada
keluarga dan seluruh masyarakat sekitarnya. Dengan majunya ilmu pengetahuan dan
teknologi membawa suatu perubahan besar bagi generasi muda, mereka belajar
bersama dan bergaul bersama dan menuju kedewasaan bersama. Dalam pergaulan
sering kali berkembang pada hubungan-hubungan yang khusus yang menjurus ke pada
persahabatan atau kepada pacaran.
Arti
dari pacaran
Pacaran adalah dampak dari pergaulan sehingga
munculah hubungan (muda-mudi), dua orang yang tidak sejenis, berdasarkan rasa
cinta. Jadi berpacaran adalah suatu proses di mana seorang laki-laki dan
perempuan menjajaki kemungkinan adanya kesepadanan di antara mereka berdua yang
dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Jadi apabila kita melihat pengertian di
atas, maka berpacaran itu bukanlah sekedar bersenang-senang melampiaskan nafsu,
mengisi kekosongan, tetapi di dalam berpacaran itu ada suatu keseriusan dan
kesungguhan untuk menjalin hubungan kedua belah pihak, yang menuju kepada suatu
pertunangan. Namun pada umumnya orang salah menginterpretasikan persepsi
pacaran yang sesungguhnya yaitu dengan cara menyalah gunakan praktek berpacaran
itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak yang negatif dan tidak jarang kedua
belah pihak saling merugikan, misalnya:
a. Ganti-ganti
pacar
b. Saling
mendewakan
c. Melampiaskan
nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya di lakukan pada tahap itu.
Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses
ini, sehingga masih terlalu muda, sudah ada remaja yang jatuh cinta dan bahkan
merasa yakin bahwa orang yang diidamkan itu pasti merupakan pasangan hidupnya,
ada juga pada masa pacaran orang sudah memanggil papi dan mami. Padahal belum
tentu mereka akan menjadi suami istri. Apa yang terjadi apabila ternyata
hubungan tersebut putus! Yang terjadi adalah kepahitan dan kekecewaan yang
sangat mendalam karena seolah-olah seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada
sang pacar. Pacaran berbeda dengan persahabatan, pertunangan, dan pernikahan
karena pacaran adalah hubungan dua orang yang tidak sejenis berdasarkan cinta.
Persahabatan berlangsung antara dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan
yang lebih baik. Pertunangan adalah suatu masa yang lebih mendalam dari pada
masa berpacaran. Dalam masa ini, suatu pasangan sudah tiba pada tahap
perencanaan yang lebih matang untuk memasuki kehidupan keluarga. Pernikahan
adalah bersatunya dua lawan jenis menjadi satu daging dan menjadi satu lembaga
yaitu Keluarga
Pacaran
menurut Alkitab
Telah dikatakan dalam Bab I bahwa pacaran itu adalah
konsep masyarakat modern, dan secara tertulis Alkitab tidak pernah menyinggung
soal kata pacaran ini, tetapi ada kisah-kisah dalam Alkitab yang menceritakan
kisah hidup seorang pemuda yang begitu sangat mencintai seorang wanita, namanya
Yakub (Kej. 29:18). Kisah ini memang
tidak dicatat secara terperinci bagaimana sikap kedua insan ini, tetapi yang
jelas Yakub mendapatkan Rahel, setelah ia bekerja dengan penuh kesungguhan selama
tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah selama tujuh tahun lagi. Ini
membutuhkan suatu ketabahan/kesabaran yang luar biasa. Dalam perjanjian baru
mengenai pacaran ini hanya tersirat yaitu bagaimana sikap seorang Kristen
misalnya (Roma 12:20) dimana sistim
pacaran dunia tidak dapat dipakai oleh seorang Kristen ketika ia ada pada
masa-masa pacaran. Dipihak lain Paulus menasihatkan anak didiknya Timotius yang
masih muda itu supaya bisa jadi teladan dari hal percaya, perkataan, tingkah
laku, kasih, kesetiaan dan kesucian agar orang tidak melihat atau menganggap
rendah Timotius masih muda itu. Melihat hal-hal diatas, maka mari kita melihat
bagaimana cara anak Tuhan berpacaran menurut konsep Alkitabiah:
Pacaran
itu harus didasari Kasih Allah.
Apa tujuan kita pacaran? Apakah hanya mengisi
kekosongan dalam hidup kita, keinginan dalam hidup kita, keinginan mata atau
hal-hal yang menyangkut kepada kepuasan diri sendiri, dimana yang menjadi pusat
perhatian hanya pada diri sendiri. Sehingga pada masa pacaran timbul istilah
bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, dan tai gigipun akan rasa
coklat...dan sebagainya,....dsb.
Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta
dan itu sangat dibutuhkan bagi orang yang berada pada masa pacaran. Menurut
kamus, asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu:
Cinta
Kasih
Cinta birahi, dimana seorang anak muda digoda dan
tergila-gila pada pasangannya.
Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara
itu naksir/keinginan yang semua ini berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih
atau Kasih itu menurut Alkitab bisa kita baca dalam I Korintus 13:4-7. Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng
untuk satu maksud dan motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan
diri sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. Jadi asmara itu tidak sama
dengan cinta sebab dampak dari asmara itu adalah kebalikan dari makna cinta
yang sebenarnya. Yes. 13:16, 18, ini
merupakan ucapan Tuhan kepada Babil, di mana anak-anak muda tidak perduli lagi
terhadap Kudusnya pernikahan itu. Sehingga dampaknya kebebasan seks, adanya
pengguguran kandungan dsb.
Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan
biasanya diiringi dengan nafsu (seks) dan itulah adalah dosa. Mat. 5:28, menginginkannya saja sudah
berzina. Simpati itu bisa saja tetapi naksir itu tidak boleh. Jadi pacaran yang
benar harus berorentasi pada kasih akan Allah, dimana kepentingan Allah yang
harus diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu. Kita harus
menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri
sendiri. Kasih akan Allah ini membuat kita mengikuti atuaran main yang Allah
berikan, diantaranya :II Korintus 6:14
....
Meskipun pada tingkat tubuh dan jiwa pasangan yang
tidak seimbang itu dapat bersatu, namun dalam tingkat roh terjadi kekosongan. Pasangan
itu tidak dapat berdoa bersama-sama dan tidak dapat menyelesaikan
masalah-masalah yang menggoncangkan hubungan mereka dengan Tuhan. Akibat dari
hal ini kepentingan pribadi akan didahulukan dari kepentingan Allah.
Jika berpacaran yang benar harus didasari kasih akan
Allah, maka dalam hal berpacaran kita harus berani bertanya kepada Tuhan,
mengapa demikian? Karena pacaran itu merupakan suatu persiapan kita masuk pada
pertunangan dan pernikahan. Jika pacaran itu didasari atas diri kita sendiri,
itu seringkali membawa hasil kekecewaan, misalnya ketika kita mengambil sikap
memutuskan dia; syukur bila yang kita putuskan itu tidak kecewa, tetapi apabila
ia merasa kecewa/sakit hati maka itu berarti kita telah melakukan pembunuhan
dan bisa jadi pasangan kita itu akan meninggalkan Tuhan bahkan menjadi murtad.
Ini berarti kita berdosa kepada Tuhan. Percayailah Allah dalam segala hal
karena Ia itu Maha Tahu yang tentunya tahu apa yang menjadi kerinduan
/kebutuhan kita bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh harapan, lihatlah Yeremia 29:11; Amsal 23:18. Jadi
pacaran yang benar harus di dasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi
pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus. Bukan berdua-berdua, karena
akibat dari berdua-duaan itu 'nenek bilang...berbahaya'.
Harus mengikuti standar moral Alkitab.
Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan
tangan, berciuman, bermesraan dsb? Telah dikatakan tadi dalam Roma 12:12 bahwa jangan kita menjadi
serupa dengan dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia.
Berpacaran cara duniawi berbeda dengan berpacaran yang Alkitab/ berpacaran yang
bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu:
Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan
kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan : mungkin besok sudah
mencari pacar baru lagi. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat
hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju lorong rumah
Nikah.
Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya untuk
memuaskan perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun
kemudian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang
bertanggung jawab kepada Tuhan melihat Tubuh pasanganya sebagai rumah kediaman
Roh Kudus (I Korintus 3;16) yang
dikagumi dan di hargai sebagai ciptaan Allah yang nanti di miliki dalam rumah
nikah, dimana mereka saling menerima satu dengan yang lain dari tangan Tuhan.
Pacaran
duniawi, berorientasi masa kini (sekarang)
Oleh karena itu sering mengakibatkan luka-luka yang
dalam, bila terjadi perpisahan. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan
berorientasi pada masa depan (hari esok). Mereka membatasi segala hubungan
intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum mengikat. Masing-masing
harus dapat melepaskan satu dengan yang lainnya (bila terjadi ketidak cocokan)
tanpa saling melukai.
Standar Alkitab tentang pacaran yaitu I Tesalonika 4:3 yaitu Allah
berkehendak supaya kita ada dalam kekudusan. Jangan merusak Bait Allah yang di
dalamnya Roh Allah bertahta. Mat.
5:27-28; Kid. 2:7; 3:5 ;8:4. Efesus 4:27 mengatakan janganlah beri
kesempatan pada iblis sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah
memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Dosa
seks akan membawa kita perlahan-lahan masuk pada dunia free seks. Hubungan
badani (senggama) antara lawan jenis itu tidak akan berlangsung ketika dua
pasangan itu baru mengenal. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi
merupakan kontak fisik untuk mendapatkan seksuil dan kenikmatan. Ada empat
tingkat intensitas hubungan fisik, di mulai dari yang paling lemah sampai yang
paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
a. Berpegangan
tangan.
b. Saling
memeluk, tetapi tangan masih diluar baju.
c. Berciuman
d. Saling
membelai dengan tangan di dalam baju.
Ransangan seksuil yang terus menerus akan
menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks
menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman
seringkali tidak berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan
muda berkata bahwa ciuman itu normal, karenan ciuman itu adalah kenikmatan pada
masa pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah
pihak. Itu adalah pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan
penjelasan bahwa dampak dari hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah
bahkan bisa merubah sayang itu menjadi benci. Contoh II Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud yaitu
Amnon dan Tamar di mana Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh
sakit karena keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15
menceritakan setelah mereka jatuh pada dosa seks, timbullah suatu kebencian
dalam diri Amnon terhadap Tamar, ini berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan
akan cinta sejati.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:17-21) supaya anak Tuhan jangan
jatuh pada hal berciuman dan lain-lain yang merangsang dalam masa berpacaran
karena itu bertentangan dengan Alkitab. Dengan demikian orang-orang Kristen
harus menghindari percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut
merupakan penyerahan diri kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan,
yang nantinya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah.
Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral Paulus kepada anak muda Kristen di mana
saja. I Timotius 5:22 bagian akhir
"jagalah kemurnian dirimu". Yesaya
5:20 celakalah yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat. Wahyu 18:2-3 keindahan tubuh telah
dipakai setan untuk menghancurkan nilai-nilai iman Kristen. Akhirnya kita akan
melihat hubungan seksual muda-mudi sebelum pernikahan dalam konteks Alkitabiah
yaitu:
Dalam perjanjian Lama Ulangan 22:13-30 Ungkapan ini menunjukkan betapa tingginya nilai
keperawanan, Amsal 7:13 - 27.
Dalam Perjanjian Baru I Korintus 6:10 Hubungan seksual
diluar pernikahan adalah percabulan. I
Korintus 6:13,18,19 Jauhkan dirimu dari percabulan, tubuh kita bukan untuk
percabulan.
Hubungan seksual diluar nikah bukan hanya masalah
pribadi melainkan mengikutsertakan Tuhan, I
Tesalonika 4:3-5,8. Jadi berpacaran itu mempunyai batas-batas tersendiri,
karena pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan perkawinan. Artinya sang
pacar itu bukanlah suami atau isteri sehingga tidak boleh diperlakukan
demikian. Oleh karena itu ada baiknya apabila orang berpacaran pergi
bersama-sama dengan teman-teman atau anggota keluarga yang lain sehingga selalu
ada rem yang mampu mengendalikan semua tingkah laku.
Kesimpulan
Agar pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri
dengan menangis dan menyesal pada puing-puing ketentuan yang mereka sudah
setujui bersama pada awal hubungan mereka, haruslah mereka berorientasi dalam
segala pergaulan mereka kepada ke empat nasihat Firman Tuhan yaitu:
Berdoalah senantiasa, I Tes. 5:17; khususnya pada waktu pacaran Ucapkanlah syukur
senantiasa atas segala sesuatu, Ef. 5:20;
apakah semua pengalaman pada waktu berpacaran menimbulkan ucapan syukur?
Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman, Roma 14:23 setiap langkah dalam
hubungan pacaran mempunyai dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan.
Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh
Kudus yang diam di dalam kamu. Kamu bukanlah milik kamu sendiri, kamu sudah
dibeli! Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ( I Korintus 6:19-20 )
Dalam KeagunganNya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar