Jumat, 03 Oktober 2014

Renungan milik Ikka - Saat Teduh


Firman : Kejadian 50 : 15 – 21
Thema  : Pengampunan Yang Tulus

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi. Dalam pembacaan kita pada saat ini pada ayat 15 – 18, di situ ada keraguan,kebimbangan diantara saudara – saudara Yusuf setelah ayah mereka meninggal. Walaupun Yusuf telah mengampuni saudara – saudaranya.

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi, apa yang membuat saudara – saudara Yusuf ragu akan pengampunan yang telah diberikan Yusuf kepada mereka ?
Itu karena saudara - saudara Yusuf merasa atau berpikir bahwa kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Yusuf sangat besar.
Itulah yang membuat mereka khawatir dan takut kepada Yusuf, kita dapat membacanya dalam ayat 16 dan 17. Pada saat Yusuf mendengar apa yang disampaikan saudara – saudaranya maka hati Yusuf sangat sedih karena Yusuf merasa benar – benar telah mengampuni saudara – saudaranya dengan tulus seperti thema renungan kita pada saat ini yaitu Pengampunan Yang Tulus.

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi, dalam ayat ke 19, Yusuf merasa dia tidak layak untuk menghakimi saudara – saudaranya.
Bacaan kita pada saat ini menolong kita untuk kita belajar dari kisah Yusuf agar kita juga mau mengampui sesama kita dengan Tulus, sebesar apapun kesalahan yang di lakukan sesama kita.. kita pasti mampu mengampuninya jika kita memohon penyertaan Tuhan kepada kita.

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi, kita sebagai manusia biasa kadang kita mau di ampuni atau bahkan di maafkan atas kesalahan kita kepada sesama.. tapi sebaliknya kita sulit untuk mengampuni dan memaafkan orang lain,
Sekali lagi kita belajar dari kisah Yusuf bahwa kita tidak layak untuk menghakimi sesama kita karena itu adalah haknya Tuhan.

Mari kita minta pertolongan Tuhan agar kita dimampukan untuk mengampuni dan mengasihi sesama kita dengan Tulus.
Amien J

Renungan Milik Ikka




Firman  : Yeremia 1 : 4 – 10
Thema  : Tuhan, Utuslah Aku

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, ketika kita ingin membaca alkitab bukan sekedar membaca tetapi pasti kita berusaha untuk mengerti setiap kata – kata atau kalimat yang kita baca dan yang lebih penting lagi untuk kita memahaminya.
Bacaan kita pada saat ini yang terdapat pada Yeremia 1 : 4 – 10 dibawa thema “Tuhan, Utuslah Aku”.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, bacaan kita mengisahkan bagaimana Tuhan Allah menyapa seorang pemuda bernama Yeremia.
Allah mendatangi Yeremia melalui firman Tuhan, dimana Allah menyatakan bahwa sejak ia masih di dalam rahim ibunya, Tuhan telah mengenalnya. Itu dapat kita baca pada ayat 5.
Dari sapaan Allah tersebut, Yeremia menyadari bahwa Ia telah begitu dikenal dan dipersiapkan secara khusus untuk menjadi seorang nabi bagi bangsa – bangsa, jika Allah berfirman aku telah mengenal engkau dan menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa – bangsa.
Maksudnya adalah pilihan Allah tidak salah. Pilihan Allah atas nabi Yeremia merupakan pilihan yang matang, bukan menurut ukuran manusia atau dunia tapi menurut ukuran Allah. Berarti panggilan dan pengutusan Allah bukan didasarkan pada pengalaman atau kehebatan manusia tetapi panggilan Allah bagi Yeremia yang masih muda karena kasih karunia Allah sendiri.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, jika demikian bukankah tidak mustahil apabila melalui bacaan kita pada saat ini mengenai kisah panggilan nabi Yeremia inipun, Allah secara khusus memanggil dan menetapkan kita sebagai nabi – nabi modern masa kini.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, bagaimana sikap kita dalam menjawab panggilan Allah setelah kita membaca Firman Tuhan pada saat ini.
Apakah kita terbuka untuk menjawab panggilan Allah itu ?
Melalui Firman Tuhan yang ditujukan pada Yeremia patut kita renungkan sebagai firman yang ditujukan juga kepada kita, dimana sebelum kita terbentuk dalam rahim ibu kita, kita telah dikenal oleh Allah. Dan sebelum kita keluar dari kandungan ibu kita, Allah telah menguduskan kita.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, maukah kita belajar dari nabi Yeremia untuk menjadi pelayan Allah yang bekerja diladangnya dengan berbagai latar belakang kita, profesi kita, pengalaman kita atau justru kia bersikap seperti nabi Yeremia yang awalnya berusaha mengelak dari tugas panggilan itu ?
Dengan memberi jawaban seperti pada ayat 6..
Dan kita akan mendapat jaminan yang pasti dari pada Tuhan.. kita dapat membacanya pada ayat yang ke 7..

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, kesetiaan dan ketaatan seorang pelayan adalah dasar panggilan Allah. Sikap itu yang dituntut oleh Allah. Selain sikap setia dan taat, Allah pun menuntut dari diri hambanya yaitu kesediaan untuk berkorban waktu, kerelaan menerima baik dan buruk, suka dan duka. Selain itu sebagai pelayan atau hambanya kita harus dengan ikhlas menanggung juga berjuang untuk tidak goyah di tengah badai dunia yang menerpa kita.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, banyak yang dipanggil namun sedikit yang dipilih. Maka dari itu kita harus bersyukur karena kita adalah orang – orang yang dipilih, kita harus menikmati panggilan Tuhan dan utusan Tuhan bagi kita. Serta kita harus mampu menghilangkan sifat – sifat iri, emosi, egois dan lain sebagainya dalam tugas dan tanggungjawab kita sebagai seorang pelayan.
Yang pasti tidak sedikit kita yang punya alasan ketika di pilih oleh Tuhan, bukan hanya tidak bisa berbicara seperti halnya Yeremia tapi juga kita akan mempunyai alasan dimana memiliki kesibukan sebagai penghalang utama. Kita lebih mementingkan kesibukan dunia dibandingkan dengan merespons panggilan Tuhan kepada kita.
Pada saat ini saya mau mengajak kita semua untuk menyadari bahwa ketika Tuhan memilih dan mengutus kita maka kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan tahu bahwa kita mampu dan Tuhan juga yang akan memampukan kita.
Amien