Jumat, 03 Oktober 2014

Renungan milik Ikka - Saat Teduh


Firman : Kejadian 50 : 15 – 21
Thema  : Pengampunan Yang Tulus

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi. Dalam pembacaan kita pada saat ini pada ayat 15 – 18, di situ ada keraguan,kebimbangan diantara saudara – saudara Yusuf setelah ayah mereka meninggal. Walaupun Yusuf telah mengampuni saudara – saudaranya.

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi, apa yang membuat saudara – saudara Yusuf ragu akan pengampunan yang telah diberikan Yusuf kepada mereka ?
Itu karena saudara - saudara Yusuf merasa atau berpikir bahwa kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Yusuf sangat besar.
Itulah yang membuat mereka khawatir dan takut kepada Yusuf, kita dapat membacanya dalam ayat 16 dan 17. Pada saat Yusuf mendengar apa yang disampaikan saudara – saudaranya maka hati Yusuf sangat sedih karena Yusuf merasa benar – benar telah mengampuni saudara – saudaranya dengan tulus seperti thema renungan kita pada saat ini yaitu Pengampunan Yang Tulus.

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi, dalam ayat ke 19, Yusuf merasa dia tidak layak untuk menghakimi saudara – saudaranya.
Bacaan kita pada saat ini menolong kita untuk kita belajar dari kisah Yusuf agar kita juga mau mengampui sesama kita dengan Tulus, sebesar apapun kesalahan yang di lakukan sesama kita.. kita pasti mampu mengampuninya jika kita memohon penyertaan Tuhan kepada kita.

Saudara – saudara yang Tuhan Kasihi, kita sebagai manusia biasa kadang kita mau di ampuni atau bahkan di maafkan atas kesalahan kita kepada sesama.. tapi sebaliknya kita sulit untuk mengampuni dan memaafkan orang lain,
Sekali lagi kita belajar dari kisah Yusuf bahwa kita tidak layak untuk menghakimi sesama kita karena itu adalah haknya Tuhan.

Mari kita minta pertolongan Tuhan agar kita dimampukan untuk mengampuni dan mengasihi sesama kita dengan Tulus.
Amien J

Renungan Milik Ikka




Firman  : Yeremia 1 : 4 – 10
Thema  : Tuhan, Utuslah Aku

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, ketika kita ingin membaca alkitab bukan sekedar membaca tetapi pasti kita berusaha untuk mengerti setiap kata – kata atau kalimat yang kita baca dan yang lebih penting lagi untuk kita memahaminya.
Bacaan kita pada saat ini yang terdapat pada Yeremia 1 : 4 – 10 dibawa thema “Tuhan, Utuslah Aku”.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, bacaan kita mengisahkan bagaimana Tuhan Allah menyapa seorang pemuda bernama Yeremia.
Allah mendatangi Yeremia melalui firman Tuhan, dimana Allah menyatakan bahwa sejak ia masih di dalam rahim ibunya, Tuhan telah mengenalnya. Itu dapat kita baca pada ayat 5.
Dari sapaan Allah tersebut, Yeremia menyadari bahwa Ia telah begitu dikenal dan dipersiapkan secara khusus untuk menjadi seorang nabi bagi bangsa – bangsa, jika Allah berfirman aku telah mengenal engkau dan menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa – bangsa.
Maksudnya adalah pilihan Allah tidak salah. Pilihan Allah atas nabi Yeremia merupakan pilihan yang matang, bukan menurut ukuran manusia atau dunia tapi menurut ukuran Allah. Berarti panggilan dan pengutusan Allah bukan didasarkan pada pengalaman atau kehebatan manusia tetapi panggilan Allah bagi Yeremia yang masih muda karena kasih karunia Allah sendiri.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, jika demikian bukankah tidak mustahil apabila melalui bacaan kita pada saat ini mengenai kisah panggilan nabi Yeremia inipun, Allah secara khusus memanggil dan menetapkan kita sebagai nabi – nabi modern masa kini.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, bagaimana sikap kita dalam menjawab panggilan Allah setelah kita membaca Firman Tuhan pada saat ini.
Apakah kita terbuka untuk menjawab panggilan Allah itu ?
Melalui Firman Tuhan yang ditujukan pada Yeremia patut kita renungkan sebagai firman yang ditujukan juga kepada kita, dimana sebelum kita terbentuk dalam rahim ibu kita, kita telah dikenal oleh Allah. Dan sebelum kita keluar dari kandungan ibu kita, Allah telah menguduskan kita.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, maukah kita belajar dari nabi Yeremia untuk menjadi pelayan Allah yang bekerja diladangnya dengan berbagai latar belakang kita, profesi kita, pengalaman kita atau justru kia bersikap seperti nabi Yeremia yang awalnya berusaha mengelak dari tugas panggilan itu ?
Dengan memberi jawaban seperti pada ayat 6..
Dan kita akan mendapat jaminan yang pasti dari pada Tuhan.. kita dapat membacanya pada ayat yang ke 7..

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, kesetiaan dan ketaatan seorang pelayan adalah dasar panggilan Allah. Sikap itu yang dituntut oleh Allah. Selain sikap setia dan taat, Allah pun menuntut dari diri hambanya yaitu kesediaan untuk berkorban waktu, kerelaan menerima baik dan buruk, suka dan duka. Selain itu sebagai pelayan atau hambanya kita harus dengan ikhlas menanggung juga berjuang untuk tidak goyah di tengah badai dunia yang menerpa kita.

Saudara – saudara yang Tuhan kasihi, banyak yang dipanggil namun sedikit yang dipilih. Maka dari itu kita harus bersyukur karena kita adalah orang – orang yang dipilih, kita harus menikmati panggilan Tuhan dan utusan Tuhan bagi kita. Serta kita harus mampu menghilangkan sifat – sifat iri, emosi, egois dan lain sebagainya dalam tugas dan tanggungjawab kita sebagai seorang pelayan.
Yang pasti tidak sedikit kita yang punya alasan ketika di pilih oleh Tuhan, bukan hanya tidak bisa berbicara seperti halnya Yeremia tapi juga kita akan mempunyai alasan dimana memiliki kesibukan sebagai penghalang utama. Kita lebih mementingkan kesibukan dunia dibandingkan dengan merespons panggilan Tuhan kepada kita.
Pada saat ini saya mau mengajak kita semua untuk menyadari bahwa ketika Tuhan memilih dan mengutus kita maka kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan tahu bahwa kita mampu dan Tuhan juga yang akan memampukan kita.
Amien

Selasa, 19 Agustus 2014

Nasihat Untuk Orang Muda



Baca: Mazmur 119:1-16

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” Mazmur 119:9
Untuk menjadi anak muda yang memiliki kualitas hidup seperti Daniel, Yusuf atau Timotius, seorang muda harus belajar bertanggung jawab dalam segala hal. Apa pun yang menjadi tugasnya harus dikerjakan dengan baik dan tuntas.
Bila kita seorang pelajar, kita harus tahu tanggung jawab dan tugas kita yaitu belajar dengan sungguh-sungguh; bila kita seorang karyawan atau pekerja, kita harus bertanggung jawab dengan perkerjaan yang kita dipercayakan kepada kita, jangan main-main dan sembrono. Alkitab menyatakan, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkotbah 9:10). Selain itu, seorang mudah arus belajar untuk menghargai otoritas. Otoritas tertinggi ada pada Tuhan, berarti kita harus menghormati Tuhan dan taat kepada firmanNya. Karena itu pemazmur menegaskan bahwa untuk dapat mempertahankan kelakuan kita tetap bersih, hanya ada satu jalan. “Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” (Mazmur 119:9b-10).
Seorang muda juga harus belajar patuh dan menaruh rasa hormat kepada orangtuanya! Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, godaan dan pengaruh dari dunia ini juga semakin gencar. Hal-hal yang berbau pornografi begitu muda didapat melalui fasilitas internet yang in menjamur di mana-mana. Seorang muda harus mampu menolak segala keinginan duniawi yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Untuk mempertahankan hidup dalam kekudusan itu, dibutuhkan tekad yang kuat dalam diri kita, karena orang-orang seperti itulah yang kelak menjadi alat-alat yang dipakai oleh Tuhan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Demikianlah firman Tuhan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21)

Jadilah orang mudah yang mampu menjadi teladan dalam segala hal!

iseng - iseng

blog itu bukan saja tempat buat posting tugas atau lain sebagainya..
tapi blog juga bisa dijadikan tempat buat curahin semua yang kamu rasakan, entah dalam menjalani kehidupan, maupun tentang cinta.

berbicara tentang cinta :)
cinta itu anugerah
cinta itu sesuatu
cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi
cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya

pokoknya banyak defenisi tentang cinta
di saat jatuh cinta, seseorang akan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan.
di saat jatuh cinta, seseorang akan dengan mudah merubah sikap
di saat jatuh cinta, seseorang akan merasa semua hal itu INDAH

itulah yang sering akyu lakuin loh kalau lagi jatuh cinta, hehehehehe
semua terasa INDAH, namun INDAH itu hanya sesaat saja ! sesaat seperti di mana kita sedang jatuh cinta,
ketika CINTA itu sudah sirna, semua akan terasa buruk.
seburuk dunia kiamat kayaknya .hahahaha

mungkin apa yang akyu ketik dalam blog ini hanya sesuatu yang sebenarnya kagak penting - penting amat, soalnya akyu ketiknya di saat lagi bosan jadi yah ketik - ketik aja dah !
hahahahahahahaha

Exzis waktu jalankan tugaz






duduk jaga stand Kabupaten Kupang
menyenangkan, tapi lumayan membozankan cz pameran tahun ini kurang rame en kurang zeru ! hehehe
tetep zemangat zah buat akyu .hahahaha

Senin, 11 Agustus 2014

Berpacaran Menurut Alkitab


Berpacaran adalah konsep masyarakat modern, artinya baru beberapa puluh tahun inilah kita mengenal konsep tersebut. Di masa lampau hal ini tidak di kenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak. Mengapa demikian?
Karena memang perkawinan bukan cuma masalah pribadi kedua orang yang terlibat saja, melainkan mempunyai dampak yang luas kepada keluarga dan seluruh masyarakat sekitarnya. Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa suatu perubahan besar bagi generasi muda, mereka belajar bersama dan bergaul bersama dan menuju kedewasaan bersama. Dalam pergaulan sering kali berkembang pada hubungan-hubungan yang khusus yang menjurus ke pada persahabatan atau kepada pacaran.

Arti dari pacaran
Pacaran adalah dampak dari pergaulan sehingga munculah hubungan (muda-mudi), dua orang yang tidak sejenis, berdasarkan rasa cinta. Jadi berpacaran adalah suatu proses di mana seorang laki-laki dan perempuan menjajaki kemungkinan adanya kesepadanan di antara mereka berdua yang dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Jadi apabila kita melihat pengertian di atas, maka berpacaran itu bukanlah sekedar bersenang-senang melampiaskan nafsu, mengisi kekosongan, tetapi di dalam berpacaran itu ada suatu keseriusan dan kesungguhan untuk menjalin hubungan kedua belah pihak, yang menuju kepada suatu pertunangan. Namun pada umumnya orang salah menginterpretasikan persepsi pacaran yang sesungguhnya yaitu dengan cara menyalah gunakan praktek berpacaran itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak yang negatif dan tidak jarang kedua belah pihak saling merugikan, misalnya:
a.       Ganti-ganti pacar
b.      Saling mendewakan
c.       Melampiaskan nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya di lakukan pada tahap itu.

Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses ini, sehingga masih terlalu muda, sudah ada remaja yang jatuh cinta dan bahkan merasa yakin bahwa orang yang diidamkan itu pasti merupakan pasangan hidupnya, ada juga pada masa pacaran orang sudah memanggil papi dan mami. Padahal belum tentu mereka akan menjadi suami istri. Apa yang terjadi apabila ternyata hubungan tersebut putus! Yang terjadi adalah kepahitan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena seolah-olah seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada sang pacar. Pacaran berbeda dengan persahabatan, pertunangan, dan pernikahan karena pacaran adalah hubungan dua orang yang tidak sejenis berdasarkan cinta. Persahabatan berlangsung antara dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan yang lebih baik. Pertunangan adalah suatu masa yang lebih mendalam dari pada masa berpacaran. Dalam masa ini, suatu pasangan sudah tiba pada tahap perencanaan yang lebih matang untuk memasuki kehidupan keluarga. Pernikahan adalah bersatunya dua lawan jenis menjadi satu daging dan menjadi satu lembaga yaitu Keluarga

Pacaran menurut Alkitab
Telah dikatakan dalam Bab I bahwa pacaran itu adalah konsep masyarakat modern, dan secara tertulis Alkitab tidak pernah menyinggung soal kata pacaran ini, tetapi ada kisah-kisah dalam Alkitab yang menceritakan kisah hidup seorang pemuda yang begitu sangat mencintai seorang wanita, namanya Yakub (Kej. 29:18). Kisah ini memang tidak dicatat secara terperinci bagaimana sikap kedua insan ini, tetapi yang jelas Yakub mendapatkan Rahel, setelah ia bekerja dengan penuh kesungguhan selama tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah selama tujuh tahun lagi. Ini membutuhkan suatu ketabahan/kesabaran yang luar biasa. Dalam perjanjian baru mengenai pacaran ini hanya tersirat yaitu bagaimana sikap seorang Kristen misalnya (Roma 12:20) dimana sistim pacaran dunia tidak dapat dipakai oleh seorang Kristen ketika ia ada pada masa-masa pacaran. Dipihak lain Paulus menasihatkan anak didiknya Timotius yang masih muda itu supaya bisa jadi teladan dari hal percaya, perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian agar orang tidak melihat atau menganggap rendah Timotius masih muda itu. Melihat hal-hal diatas, maka mari kita melihat bagaimana cara anak Tuhan berpacaran menurut konsep Alkitabiah:

Pacaran itu harus didasari Kasih Allah.
Apa tujuan kita pacaran? Apakah hanya mengisi kekosongan dalam hidup kita, keinginan dalam hidup kita, keinginan mata atau hal-hal yang menyangkut kepada kepuasan diri sendiri, dimana yang menjadi pusat perhatian hanya pada diri sendiri. Sehingga pada masa pacaran timbul istilah bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, dan tai gigipun akan rasa coklat...dan sebagainya,....dsb.
Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta dan itu sangat dibutuhkan bagi orang yang berada pada masa pacaran. Menurut kamus, asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu:

Cinta Kasih
Cinta birahi, dimana seorang anak muda digoda dan tergila-gila pada pasangannya.
Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan yang semua ini berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau Kasih itu menurut Alkitab bisa kita baca dalam I Korintus 13:4-7. Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk satu maksud dan motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. Jadi asmara itu tidak sama dengan cinta sebab dampak dari asmara itu adalah kebalikan dari makna cinta yang sebenarnya. Yes. 13:16, 18, ini merupakan ucapan Tuhan kepada Babil, di mana anak-anak muda tidak perduli lagi terhadap Kudusnya pernikahan itu. Sehingga dampaknya kebebasan seks, adanya pengguguran kandungan dsb.
Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu (seks) dan itulah adalah dosa. Mat. 5:28, menginginkannya saja sudah berzina. Simpati itu bisa saja tetapi naksir itu tidak boleh. Jadi pacaran yang benar harus berorentasi pada kasih akan Allah, dimana kepentingan Allah yang harus diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu. Kita harus menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri sendiri. Kasih akan Allah ini membuat kita mengikuti atuaran main yang Allah berikan, diantaranya :II Korintus 6:14 ....
Meskipun pada tingkat tubuh dan jiwa pasangan yang tidak seimbang itu dapat bersatu, namun dalam tingkat roh terjadi kekosongan. Pasangan itu tidak dapat berdoa bersama-sama dan tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menggoncangkan hubungan mereka dengan Tuhan. Akibat dari hal ini kepentingan pribadi akan didahulukan dari kepentingan Allah.
Jika berpacaran yang benar harus didasari kasih akan Allah, maka dalam hal berpacaran kita harus berani bertanya kepada Tuhan, mengapa demikian? Karena pacaran itu merupakan suatu persiapan kita masuk pada pertunangan dan pernikahan. Jika pacaran itu didasari atas diri kita sendiri, itu seringkali membawa hasil kekecewaan, misalnya ketika kita mengambil sikap memutuskan dia; syukur bila yang kita putuskan itu tidak kecewa, tetapi apabila ia merasa kecewa/sakit hati maka itu berarti kita telah melakukan pembunuhan dan bisa jadi pasangan kita itu akan meninggalkan Tuhan bahkan menjadi murtad. Ini berarti kita berdosa kepada Tuhan. Percayailah Allah dalam segala hal karena Ia itu Maha Tahu yang tentunya tahu apa yang menjadi kerinduan /kebutuhan kita bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh harapan, lihatlah Yeremia 29:11; Amsal 23:18. Jadi pacaran yang benar harus di dasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus. Bukan berdua-berdua, karena akibat dari berdua-duaan itu 'nenek bilang...berbahaya'.

Harus mengikuti standar moral Alkitab.
Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman, bermesraan dsb? Telah dikatakan tadi dalam Roma 12:12 bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. Berpacaran cara duniawi berbeda dengan berpacaran yang Alkitab/ berpacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu:
Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan : mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju lorong rumah Nikah.
Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemudian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat Tubuh pasanganya sebagai rumah kediaman Roh Kudus (I Korintus 3;16) yang dikagumi dan di hargai sebagai ciptaan Allah yang nanti di miliki dalam rumah nikah, dimana mereka saling menerima satu dengan yang lain dari tangan Tuhan.

Pacaran duniawi, berorientasi masa kini (sekarang)
Oleh karena itu sering mengakibatkan luka-luka yang dalam, bila terjadi perpisahan. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan berorientasi pada masa depan (hari esok). Mereka membatasi segala hubungan intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum mengikat. Masing-masing harus dapat melepaskan satu dengan yang lainnya (bila terjadi ketidak cocokan) tanpa saling melukai.
Standar Alkitab tentang pacaran yaitu I Tesalonika 4:3 yaitu Allah berkehendak supaya kita ada dalam kekudusan. Jangan merusak Bait Allah yang di dalamnya Roh Allah bertahta. Mat. 5:27-28; Kid. 2:7; 3:5 ;8:4. Efesus 4:27 mengatakan janganlah beri kesempatan pada iblis sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Dosa seks akan membawa kita perlahan-lahan masuk pada dunia free seks. Hubungan badani (senggama) antara lawan jenis itu tidak akan berlangsung ketika dua pasangan itu baru mengenal. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi merupakan kontak fisik untuk mendapatkan seksuil dan kenikmatan. Ada empat tingkat intensitas hubungan fisik, di mulai dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
a.       Berpegangan tangan.
b.      Saling memeluk, tetapi tangan masih diluar baju.
c.       Berciuman
d.      Saling membelai dengan tangan di dalam baju.

Ransangan seksuil yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan muda berkata bahwa ciuman itu normal, karenan ciuman itu adalah kenikmatan pada masa pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah pihak. Itu adalah pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan penjelasan bahwa dampak dari hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah bahkan bisa merubah sayang itu menjadi benci. Contoh II Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud yaitu Amnon dan Tamar di mana Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 menceritakan setelah mereka jatuh pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon terhadap Tamar, ini berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta sejati.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:17-21) supaya anak Tuhan jangan jatuh pada hal berciuman dan lain-lain yang merangsang dalam masa berpacaran karena itu bertentangan dengan Alkitab. Dengan demikian orang-orang Kristen harus menghindari percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut merupakan penyerahan diri kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan, yang nantinya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah. Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral Paulus kepada anak muda Kristen di mana saja. I Timotius 5:22 bagian akhir "jagalah kemurnian dirimu". Yesaya 5:20 celakalah yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat. Wahyu 18:2-3 keindahan tubuh telah dipakai setan untuk menghancurkan nilai-nilai iman Kristen. Akhirnya kita akan melihat hubungan seksual muda-mudi sebelum pernikahan dalam konteks Alkitabiah yaitu:
Dalam perjanjian Lama Ulangan 22:13-30 Ungkapan ini menunjukkan betapa tingginya nilai keperawanan, Amsal 7:13 - 27.

Dalam Perjanjian Baru I Korintus 6:10 Hubungan seksual diluar pernikahan adalah percabulan. I Korintus 6:13,18,19 Jauhkan dirimu dari percabulan, tubuh kita bukan untuk percabulan.
Hubungan seksual diluar nikah bukan hanya masalah pribadi melainkan mengikutsertakan Tuhan, I Tesalonika 4:3-5,8. Jadi berpacaran itu mempunyai batas-batas tersendiri, karena pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan perkawinan. Artinya sang pacar itu bukanlah suami atau isteri sehingga tidak boleh diperlakukan demikian. Oleh karena itu ada baiknya apabila orang berpacaran pergi bersama-sama dengan teman-teman atau anggota keluarga yang lain sehingga selalu ada rem yang mampu mengendalikan semua tingkah laku.

Kesimpulan
Agar pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri dengan menangis dan menyesal pada puing-puing ketentuan yang mereka sudah setujui bersama pada awal hubungan mereka, haruslah mereka berorientasi dalam segala pergaulan mereka kepada ke empat nasihat Firman Tuhan yaitu:
Berdoalah senantiasa, I Tes. 5:17; khususnya pada waktu pacaran Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu, Ef. 5:20; apakah semua pengalaman pada waktu berpacaran menimbulkan ucapan syukur?
Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman, Roma 14:23 setiap langkah dalam hubungan pacaran mempunyai dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan.
Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu. Kamu bukanlah milik kamu sendiri, kamu sudah dibeli! Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ( I Korintus 6:19-20 )

Dalam KeagunganNya...

Menghidupi Panggilan sebagai Pemuda-Pemudi Kristen

Kekuatan dan Fondasi Hidup

Pengkhotbah 11:9 Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!

Amsal 20:29 Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.

Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Masa muda, inilah satu periode transisi seorang manusia dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Inilah waktu di mana seseorang memiliki perkembangan yang pesat akan pemikiran abstrak, penemuan identitas diri secara psikologis, dan keinginan untuk dapat hidup mandiri. Inilah suatu masa di mana seseorang dipenuhi dengan kekuatan dan vitalitas, sekaligus menghadapi badai, konflik, dan stress. Inilah satu periode dalam hidup manusia ketika aspek kekuatan fisik menjadi begitu memuncak. Kitab Amsal dengan jelas menyatakan bahwa kekuatan inilah yang menjadi keunikan dari orang muda. Tidak heran, jika hal ini akhirnya menjadi modal utama bagi pemuda/i untuk melakukan eksplorasi, mencoba hal-hal baru, dan berkomunikasi secara intens dengan orang-orang di sekitarnya (khususnya teman sebaya). Dari sanalah akhirnya pemuda/i dapat semakin mengenal diri (termasuk seluruh potensi, talenta, dan kelemahan dirinya) dan membangun konsep realitas lingkungan di sekitarnya.
Kitab Pengkhotbah sudah memberikan peringatan bahwa hidup pemuda/i akan menghadapi gejolak keinginan hati dan pandangan mata. Ditambah keinginan kuat untuk hidup berdikari maka teriakan untuk menuntut kebebasan yang cenderung berujung pada keliaran kerap kali terlontar dari hati dan mulut pemuda/i. Hal ini dilihat dengan jelas oleh sang Pengkhotbah. Maka ia melanjutkan agar orang muda harus sadar bahwa segala hal yang dilakukannya, akhirnya harus ia pertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah. Kekuatan dan dorongan kebebasan yang begitu bergejolak dalam diri orang muda harus dikontrol dengan kesadaran akan panasnya murka Allah dan kedahsyatan takhta penghakiman-Nya.
Dari perspektif Amsal 22, masa muda adalah waktu-waktu krusial di mana seseorang menetapkan fondasi, jalan, dan arah hidupnya. Inilah masa di mana seseorang seharusnya menerima seluruh pengajaran dan prinsip kebenaran yang akan terus ia pegang erat seumur hidup. Jika masa tersebut diisi dengan segala hal yang berharga, berbobot, dan bermutu, maka arah hidup orang tersebut akan jelas dan bahkan sampai masa tua ia akan tetap mengikuti jalan tersebut. Dalam salah satu khotbahnya, Pdt. Dr. Stephen Tong menjelaskan bahwa periode terakhir dalam hidup seseorang di mana ia benar-benar memikirkan kepercayaan yang akan dipegangnya seumur hidup adalah pada umur 18-19 tahun. Jika periode itu lewat, sangat jarang seseorang kembali memikirkan mengenai arah iman dan kepercayaannya secara komprehensif. Maka dari itu, sangatlah krusial bagi seorang muda untuk memperhatikan apa yang mengisi dan membentuk hidupnya. Sebab hal itu akan memiliki dampak langsung sampai ke penghujung hayatnya, bahkan sampai pada kekekalan.

Kurang Pengalaman/Pengetahuan dan Idealis

I Raja-raja 3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.

Kamis, 19 Juni 2014

Citra Digital

Tugas
Nama : Ribca Atonis
Kelas  : B
NIM   : 11110099

Filterlah data dibawah dengan filtering berikut :

soal 1
















 
































soal 2